Pasti sudah tidak asing lagi bagi yang sudah berpengalaman dalam proses import, bahwa di Indonesia ini biasa kita memiliki 2 macam jalur untuk mendatangkan barang dari luar negeri. Bagi yang masih awam, mungkin belum begitu paham dengan hal ini, dan disini akan kami jelaskan berbedaan dari kedua jalur yang biasa digunakan oleh importir.

Jalur pertama yaitu adalah jalur resmi. Jalur ini mengikuti peraturan perundang undangan dalam memasukkan barang dari luar negeri ke Indonesia dan membayar pajak, bea masuk, dan biaya lain sesuai aturan. Setiap barang memiliki kategori antara barang umum dan barang lartas. Untuk barang umum, perusahaan importir tidak perlu mengajukan ijin apapun, dan hanya perlu mengatur dokumen pengiriman barangnya. Tetapi untuk barang lartas, ada beberapa ijin yang harus di penuhi terlebih dahulu sebelum mendapatkan keputusan untuk boleh mengimport barang tersebut. Sebagian dari ijin yang diperlukan adalah seperti SNI, karantina, laporan surveyor, dll.

Untuk jalur resmi ini, memang perijinan perusahaan pengimport juga harus lengkap dan jelas. Biasanya jalur ini memang digunakan oleh perusahaan yang sudah cukup besar. Tetapi ada juga solusi lain untuk seseorang yang belum mempunyai ijin import tetapi ingin melalui jalur resmi yaitu dengan menggunakan jalur undername. Pada dasarnya undername adalah meminjam nama dari perusahaan lain yang memiliki ijin import lengkap, sehingga mereka yang akan berperan menjadi importir barang tersebut.

Jalur selanjutnya dan jalur yang paling umum digunakan oleh pengusaha kecilan kecilan di tanah air ini, yaitu jalur borongan. Jalur ini sebetulnya bisa dikatakan adalah “jalur belakang” karena barang yang diimport tidak membayar sesuai aturan perpajakan yang berlaku. Biasanya perusahaan pengiriman akan membayar pajak secara flat sehingga ada barang yang pajaknya seharusnya melebihi, akhirnya dibayar kurang (dan juga sebaiknya). Alasan banyak orang yang menggunakan jalur ini adalah kemudahannya dalam mengirim. Jika dalam jalur resmi, sang importir selain harus mempunyai ijin lengkap, juga harus mengatur semua dokumennya secara teliti, dalam jalur borongan, semua itu akan diatur oleh perusahaan pengirimannya, sehingga sang importir tidak perlu pusing dalam mengurusi itu semua.

Oleh karena itulah, banyak importir kecil, khususnya pemula akan lebih tertarik untuk menggunakan jalur borongan. Memang dalam kebanyakan kasus, jalur borongan menjadi pilihan yang tepat karena kemudahannya dan harga yang tidak terlalu tinggi. Tetapi terkadang, khususnya dalam pengiriman barang yang memiliki bentuk fisik besar namun harganya murah, sebaiknya dikirim melalui jalur resmi (atau undername) karena justru dapat menghemat biaya.

Jadi jalur manakah yang terbaik? Tentunya itu kembali ke masing masing situasi dan kondisi usaha anda. Untuk jangka panjang tentunya resmi bisa menjadi pilihan yang cukup baik. Namun untuk jangka pendek atau jika memang mengutamakan kemudahan, jalur borongan bisa menjadi pilihan utama.

Salam,

One world